Minggu, 29 November 2015
Minggu, 20 September 2015
TUGAS 2
BAHAYANYA PERGAULAN BEBAS
Bumi ini tak berhenti berputar
pada porosnya, begitupun zaman. Zaman dari waktu ke waktu, hari ke hari, tahun
ke tahun terus berjalan bahkan zaman akan mengalami perubahan. Saat ini zaman
banyak dipegaruhi oleh teknologi yang canggih, teknologi yang menjadi factor
pendorong manusia untuk dituntut mengikuti zaman. Zaman memang mempengaruhi
segalanya seperti halnya pergaulan,
setiap manusia pasti dituntut untuk bergaul karena bergaul merupakan
suatu tindakan bersosiali antar sesama. namun pergaulan yang seperti apa yang
mesti kita lakukan? Yaps pergaulan yang mesti kita lakukan adalah pergaulan
yang membawa dan mengarahkan kejalan yang lebih baik memang kebanyakan saat ini
banyaknya pergaulan yang menyimpang dari batas batas norma dan kebiasaan adat
dari timur yaitu pergaulan bebas.
Pergaulan bebas ini terjadi
akibat dari perubahan zaman, perubahan lingkungan sekitar. Seperti halnya
kebudayaan. Kebudayaan merupakan salah satu unsur kekayaan bangsa, setiap
daerah pasti memiliki kebudayaan. Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam di
setiap daerah namun kebudayaan itu kemungkinan akan kurang diminati karena
zaman. Zaman berubah seiring dengan perkembangan iptek yang bisa memepengaruhi
kebudayaan local. Seperti dalam internet, ineternet mampu mengakses dan menyajikan
berbagai kebudayaan dari barat. Nah oleh sebab itu kebudayaan local banyak
terpengaruhi oleh kebudayaan barat bahkan kebudaayaan local bisa terkalahkan
oleh kebudayaan barat karena banyaknya kalangan remaja yang meminati kebudayaan
barat.
Kebudayaan
local saat ini benar benar terancam keberadaan nya maka dari itu sebagai
generai muda arus bisa sedikitnya melestarikan kebudayaan local dengan
menanamkan dari sekaran pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana cara
bergaulan yang benar dan bagaimana cara untuk melestarikan kebudayaan local
agar tidak terintimidasi oleh kebudayaan barat.
Selain itu pergaulan bebas juga membawa dampak sangat buruk bagi kalangan remaja seperti halnya penggunaan obat obatan terlarang dan juga seperti maraknya pecandu narkoba dan pengedar di kalangan remaja,narkoba sangat berpengaruh bagi kesehatan terutama dapat menyebabkan terserangnya penyakit HIV/AIDS,di indonesia sudah banyak bagi kalangan remaja yang mengidap penyakit tersebut.
Tanda pertama penderita HIV biasanya akan mengalami demam selama 3
sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh. Setelah kondisi membaik
orang yang terinfeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan
secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena serangan demam
yang berulang.
AIDS.
3. Batuk berekepanjangan
4. Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh (dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha)
5. Sakit kepala
6. Sulit berkonsentrasi
7. Respon anggota gerak melambat
8. Sering nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki
9. Mengalami tensi darah rendah
10. Terjadi serangan virus cacar air dan cacar api
11. Infeksi jaringan kulit rambut
12. Kulit kering dengan bercak-bercak.
Sebelum seseorang bisa dikatakan terkena penyakit HIV/AIDS. Ia akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut :
1. Penderita akan mengalami demam tinggi yang berkepanjangan
2. Penderita akan mengalami napas pendek, batuk, nyeri dada dan demam, Ia akan kehilangan nafsu makan
4. Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh (dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha)
5. Sakit kepala
6. Sulit berkonsentrasi
7. Respon anggota gerak melambat
8. Sering nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki
9. Mengalami tensi darah rendah
10. Terjadi serangan virus cacar air dan cacar api
11. Infeksi jaringan kulit rambut
12. Kulit kering dengan bercak-bercak.
Maka dari itu kita sebagai kalangan remaja dan juga para orang orang dewasa hindarilah pergaulan bebas untuk menghindari penyimpangan sosial,dan hindarilah seks bebas dan jangan berganti ganti pasangan seksual.
Minggu, 13 September 2015
Tugas 1
CANDI BOROBUDUR
Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia,sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang
diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi
dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan
ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di
dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai
sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi
dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil
terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam
kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Aruphadatu
(ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui
serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460
panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14
seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta
mulai masuknya pengaruh Islam.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles,
yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.
Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan
dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga
1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi
juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan
purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas,meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui.Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas RafflesRaffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis.Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya
bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata.Sambharabhudhara,yaitu,artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata.Sambharabhudhara,yaitu,artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M.Bangunan rasksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani.
Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam
prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra.Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula
yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan
leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis
memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur
Langganan:
Komentar (Atom)



